Naik Angkutan Umum

Naik angkutan umum adalah rutinitas saya tiap kali berangkat ke kantor. Pertama naik Kopaja 88 jurusan Kalideres-Slipi, turun di Slipi, lalu lanjut naik bus 46 jurusan Grogol-Kampung Rambutan, turun di Gedung Depnaker, dekat Kuningan. Ada yang menarik dari bus 46 ini. Konon katanya ini adalah bus 'sampah' yang di negeri asalnya, Jepun, sudah tidak layak pakai lagi, alias kadaluarsa. Daripada dibuang percuma, mending dijual lagi ke Indonesia yang rela menerimanya dengan tangan terbuka. Walaupun cuma bus 'sampah' toh, selama beberapa bulan ini, baru sekali saya mengalami kemogokan bus di tengah jalan, yang untunglah tidak membuat saya harus mendorong bus tersebut. Dengan kata lain, kinerja bus ini masih baik-baik saja. Ongkosnya pun murah, cuma 1200 perak sekali jalan. Jadi, nggak heran, saya sering harus berdesak-desakan untuk menikmati angkutan umum yang murah ini.


Ngomong-ngomong soal berdesak-desakan, hal ini sempat bikin saya trauma. Soalnya, di bus yang sama, saya pernah mengalami kecopetan untuk pertama kalinya dalam hidup saya. Dan saya pun harus merelakan HP Siemens C65 saya melayang ke tangan para pencopet yang mungkin sudah mengincar saya dari Slipi. Kejadian ini sih tidak bikin saya kapok untuk naik angkutan umum. Hanya saja, sekarang saya berusaha untuk lebih hati-hati dan waspada agar kejadian itu tidak terulang lagi. Namanya juga naik angkutan umum, jadi yang naik juga dari khalayak umum. Siapa aja ikut, tidak peduli ia pegawai kantor, kuli bangunan, pedagang, satpam, sampai copet. Yang penting, kenalilah gelagat-gelagat mencurigakan yang ada di sekitar Anda saat naik angkutan umum. Jika Anda yakin bisa berkonfrontasi dengan para pencopet atau pemalak, silakan tenang-tenang,tapi jika tidak, turun dari kendaraan umum adalah langkah terbaik yang bisa Anda lakukan. Waspadalah, waspadalah.

Comments

Popular Posts